Maaf! Scooterist Bukan Geng!
Kecelakaan tersebut merupakan sebuah kecelakaan antara pengendara vespa
dan truck gandeng, melalui liputan dalam tulisan di kompas.com tersebut,
pada saat terjadi kecelakaan sepeda motor vespa yang melintas tersebut
berada pada posisi yang terlalu kanan. Sebetulnya tidak ada yang salah
dalam pemberitaan tersebut. Karena memang itu adalah sebuah kecelakaan
murni yang tanpa disengaja. Semua memang dapat mengetahui bahwa
terkadang di jalanan, para pengemudi tidak bisa lepas dari kelalaian.
Baik itu karena mengantuk, kurang konsentrasi atau ada hal hal lain yang
mengakibatkan terjadinya kecelakaan tersebut.
Namun dalam berita tersebut, dituliskan bahwa Scooterist/club vespa/ penggemar vespa disebut dengan penyebutan Geng Vespa.
Ini adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal, dimana pengistilahan
tersebut sangat berpengaruh besar bagi scooterist atau penggemar vespa.
Dikalangan komunitas pencinta vespa tidak ada penyebutan Geng untuk
sesama club atau pencinta vespa dan motor-motor yang lainnya. Kenapa
demikian? Karena memang istilah geng adalah sebuah penyebutan kepada
kumpulan motoris yang bisa ugal-ugalan dan membuat kerusuhan.
Sebagai salah satu contohnya, adalah VAC (Vespa Antique Club) yang telah
diakui keberadaannya oleh Polda Bandung sejak 1993. Club ini memang
sudah menjadi bagian penting dalam beberapa event pemerintahan Provinsi
Jawa Barat. Seperti halnya pada tiap Bulan Agustus yang selalu berperan
aktif dalam suksesnya peringatan HUT RI. Serangkaian acara seperti
tabur bunga di makam pahlawan, peringatan hari pramuka dan acara puncak
yaitu Upacara pada tanggal 17 Agustus. Sebagai sebuah organisasi resmi
yang merupakan Club Vespa peertama di indonesia VAC juga telah
dilengkapi dengan AD/ART.

Apa yang membedakan Club dengan Geng?
Pengistilahan Geng vespa itu tidak tepat, karena istilah geng
biasa digunakan untuk kumpulan OTB (Organisasi Tidak Berbentuk) yaitu
sebuah kumpulan spontanitas yang terdiri dari orang yang memiliki
hobby/kegemaran yang sama. Dalam hal ini, biasnya kumpulan
tersebut memang tidak memiliki tujuan serta arahan yang terorganisir.
Sehingga rentan terhadap tindakan-tindakan spontanitas yang tidak
bertanggung jawab.
Seperti halnya dibandung, perang terhadap geng motor tersebut terus
digalakan sejak maraknya tindak kejahantan yang dilakukan para anggota
geng tersebut. Tentu saja tidak semua pengendara motor baik itu motor
keluaran terbaru atau lama di beri tindakan atau diperangi. Karena hanya
geng motor saja yang diperangi tersebut.
Untuk mengetahui geng motor, tidak semudah dengan menyebut bahwa
pengendara motor secara berkelompok adalah sebuah geng. Karena ada
bebera kriteria kumpulan/rombongan atau komunitas yang bisa di sebut
geng. Berikut adalah kriterianya:
- Kebanyakan anggota geng motor segan untuk menggunakan perangkat safety dalam berkendaraan, seperti helm, sepatu dan jaket.
- Membawa senjata tajam yang dibuat sendiri atau sudah dari pabriknya seperti samurai, badik hingga bom Molotov.
- Biasanya hanya beraktifitas pada malam hari dan tidak menggunakan lampu penerang serta gemar menggunakan knalpot bersuara keras.
- Jauh dari kegiatan sosial, tidak pernah membuat acara-acara sosial seperti sunatan masal atau kawin masal, mereka lebih suka membuat acara yang bersifat hura hura, dan kejahatan secara berkelompok seperti: Pengeroyokan, jambret dan sebagainya.
- Anggota nya lebih banyak ke pada kaum lelaki yang berkarakter keras, sekalipun tidak menutup kemungkinan ada kaum hawa yang ikut menjadi anggota geng.
- Kendaraan yang mereka gunakan biasanya bodong, gak ada spion, sein, hingga lampu utama. Yang penting buat mereka adalah mampu untuk di pacu dalam kecepatan tinggi.
- visi dan misi mereka jelas, karena tidak memiliki aturan organisasi yang disusun, seperti program kerja AD/ART dll.
- tidak terdaftar dikepolisian atau masyarakat setempat.
- Lebih memilih tempat sepi, gelap untuk berkumpul, hal ini dilakukan agar tidak terlalu kelihatan di muka umum. Karena mesti diketahui, satu geng motor itu tidak ada yang berteman dengan geng ytang lainnya.
- Rekruitmen anggota batu dan pelantikan biasanya dilakukan dengan kekeraasan fisik seperti; berkelahi dan menenggak minuman keras.
Sementara itu, sangat berbeda dengan Club, baik itu Vespa ataupun motor yang lainnya, dengan kriteria seperti di bawah ini:
- Perlengkapan safety dalam berkendara benar-benar komplit.
- Motor dan pengendaranya sama-sama lengkap bahkan biasanya ditambah box dibelakang motor buat menaruh helm dan peralatan motor.
- Biasanya setiap club motor hanya terdiri dari satu merk dan satu tipe motor saja namun ada juga yang campur-campur.
- Berkumpul atau istilahnya kopdar ditempat yang ramai agar bisa dilihat masyarakat sekaligus ajang silahturahmi kepada club motor lain yang kebetulan melintas.
- pelantikan anggota baru biasanya tanpa kekerasan, hanya untuk having fun dan memberi pengetahuan seluk beluk berlalu lintas yang benar
- mempunyai visi dan misi yang jelas dan jauh dari ruang lingkup yang anarkis.
- melakukan kegiatan touring ke daerah-daerah sembari membagikan sumbangan.
- AD/ART mereka jelas dan tercatat dalam kepolisian atau wadah dari perkumpulan club motor.
- Saling tolong menolong terhadap anggota club motor lain ketika dijalan mendapatkan trouble.
- Setiap club motor memiliki tujuan dalam berkendara dan peraturan-peraturan yang tidak membebankan anggotanya. Karena club tersebut murni dijadikan sebuah kumpulan sesama pencinta kendaraan tersebut untuk berbagi informasi dan menjalin persahabatan yang luas.
Dengan demikian, dan perlu di ketahui bahwa rombongan/kumpulan
pengendara motor tidak bisa di sebut Geng motor seperti yang di sebutkan
pada berita di Kompas.com tersebut. Dan semoga saja dengan ini pihak
yang tekait bisa menjadikan sebuah ketelitian dalam menyebutkan istilah
ketika merilis sebuah reportase.
Terima kasih. Semoga bermanfaat :)
0 komentar:
Posting Komentar